Ada banyak kelucuan yang terjadi di episode ini... Adanya Jung Il-woo dengan karakter si manja penggoda guru sebagai Chi-soo sudah membuat cerita ini menarik dan plus dengan munculnya Lee Ki-woo sebagai ‘suami’ Eun-bi karena perjanjiannya dengan ayah Eun-bi. Dia dijuluki si ‘tiang’ karena tubuhnya memang tinggi menjulang karakter lebih tenang dan suka tidur yang membuat cerita semakin ramai, lucu dan tentu saja menarik..
Setelah mencium dahi Eun-bi, Chi-soo memperingatkan Eun-bi untuk tidak menggangu urusannya atau dia akan mengencaninya... Itu mah, bukan ancaman. Pasti tidak ada yang menolakmu, Chi-soo. Dia meninggalkan gym dan berjalan ke teman-temannya, dan bilang dia sudah “menyingkirkan sesuatu” sambil mengelap bibirnya bekas kecupan di dahi Eun-bi. (Ih.. kesannya dia jijik loh.)
Dong-Joo berlari menemui Eun-bi di gym yang masih shock dan dia mendesaknya ke rumah sakit. Eun-bi pun setuju: “Mungkin benar, ada sesuatu yang salah padaku kan? Ya, ayo kita ke rumah sakit mana?”
Dong-Joo: “Apa yang kau katakan, Ayahmu ada di rumah sakit sekarang! ”
Sesampai di sana, Eun-bi menemukan Ayam Gila (Ba-wol) menangisi seseorang yang wajahnya dibalut perban. Eun-bi memukul kepala Ba-wol: "Itu bukan ayahku, bocah tengik !" Hahaha... Ternyata ayah lengannya patah dan digips.
Kang-hyuk dengan santainya melap noda saus dibibir wanita itu dengan tangannya,dan eh dia menjilat saus itu " Aku bilang bibirmu hangat, bukan cantik. Ah, saus ini kurang enak rasanya.”
Eun-bi duduk-duduk minum dengan Dong-joo didekat rumahnya. Tapi kemudian Dong-joo masuk kedalam toko tapi seseorang menabraknya, pria menawan dengan postur tinggi Kang-hyuk. Eun-bi mengingat kejadian di gym sekolah apakah Chi-soo hanya bermain-main dengannya. Melepaskan emosinya Eun-bi memasukkan koin di mesin mainan meninju, dan ternyata skor tinggi hanya dengan satu pukulan. Para pria yang ada disitu terkesan - begitu juga Kang-hyuk yang keluar dari toko menontonnya.
Kang-hyuk tiba di rumah sakit dan bertanya ruangan pasien tapi perawat meminta KTPnya. Tetapi KTP ada didalam tasnya yang berarti dia harus mengeluarkan isinya, membuat dia mengeluh lama-kelamaan dia tidur dilantai. Tentu saja ini membuat perawat kaget (dipikir dia sakit). Seseorang memencet hidungya membuatnya tersadar "Bos..."
Ternyata ayah Eun-bi. Ternyata Kang-hyuk adalah pemalas yang suka tidur, segera dia mau tidur di tempat tidur Ayah Eun-bi yang jadi pasien. Ayah mengingatkan Kang-hyuk untuk menemui seseorang selagi dia di sini. Kang-hyuk mengerti yang dimaksud ayah adalah "istri"nya - "Apakah dia masih memiliki temperamen seksi?" (Sepertinya dia mengenal betul sifat Eun-bi.. yang dijodohkan waktu kecil).
Keesokan harinya Eun-bi berjalan ke sekolah, dia ingat saran Dong-Joo untuk tidak menanggapi serius tingkah siswa yang genit. Tapi ketika dari jauh melihat Chi-soo menuju sekolah, dia merunduk bersembunyi pintu gembang (bahkan bersujud... ya ampun takut betul ketemu Chi-soo).
Hari ini hari pertama dia yang guru olahraga mengajar dilapangan bermain basket, dan Eun-bi berubah seragam olahraga merah muda. Sayang sekali hanya dua yang siswa muncul di lapangan. Satunya Ba-wol dan lain tidak bisa bermain basket. Tapi tiba-tiba Chi-soo dan teman-temannya masuk. Sialan, padahal dia berharap mereka tidak hadir.
Ba-wol tidak senang dan menggeram di wajah Chi-soo. Eun-bi memulai permainan dan cepat mundur untuk menghindari interaksi lebih lanjut, tapi Chi-soo memintanya bergabung karena kekurangan pemain. Eun-bi melempar bola ke Ba-wol yang dijaga Chi-soo. Dan berhasil memasukkan bola. Eun-bi dan Ba-wol menari kesenangan yang membuat Chi-soo jengkel.
Permainan berlanjut. Satu demi satu, para playboy membuat Eun-bi mengalihkan perhatiannya dalam melempar bola dengan memujinya dengan rayuan murahan. Semua rayuan teman-teman Chi-soo berhasil ditepisnya. Tapi kemudian Chi-soo memeluk pinggangnya ketika Eun-bi hendak lompat melempar bola "Tanganmu benar-benar kuat, tapi pinggangmu pasti pinggang wanita." Duk.. bola terlepas. KO... Dia lemas..
Dong-joo yang menonton menyadari Eun-bi mulai menjadi ‘manusia’ karena kebiasaannya yang selalu marah. Sedang pelatih volinya heran karena melihat Eun-bi menjadi sangat lemah.
Eun-bi ditegur oleh seorang guru karena membuat anak-anak berlatih di kelas olahraga. Sehingga dia suruh membersihkan gym. Eun-bi jengkel karena ketakutan guru itu ada pada dewa “Hwanung“ Chi-soo. Selagi membersihkan Eun-bi mendengar teman-teman bertanya mengapa Chi-soo bersikeras ikut kelas olahraga hari ini, apakah dia tertarik pada guru itu? Eun-bi menguping pembicaraan mereka.
Tiba-tiba salah satu diantara mereka mengeluh karena diganggu seorang gadis lewat hp-nya. Chi-soo memberikan nasihat: "Katakan dia cantik" Tapi Hee-gon tidak merasa dia cukup cantik, sehingga Chi-soo menambahkan, "Katakan padanya kalau tahi lalatnya cantik. Lalu,biarkan 5 detik kemudian cium keningnya, bukan bibir - dengan cara itu akan terlihat tulus. Dia pasti terdiam selama seminggu.” (ow..ow.. ada yang tersinggung....)
Kasihan Eun-bi. Tentu saja, karena dia sudah berfantasi konyol, tapi ternyata dia menjadi tertawaan. Dia mengikuti Chi-soo di lorong kelas dan memerintahkannya berhenti. Penuh dengan kemarahan, bola voli ada di tangannya Eun-bi melepas lencana gurunya dan memperingatkan bahwa dia akan menghitung sampai tiga dan memberikan satu pukulan, sehingga ia sebaiknya mempersiapkan diri. Chi-soo mengira dia menggertak. Bola diangkat dan di hantamkannya pas banget ke wajah Chi-soo. Eun-bi nyengir, puas. Semua siswa terperangah.Eun-bi memperingatkan untuk menghindari dirinya dari sekarang "Bahkan jangan berani menginjak bayanganku." Wuih.. gaya Eun-bi keren abizz membalas sikap Chi-soo yang mempermainkannya.

Chi-soo terkejut, ia marah mengangkat tangannya hendak memukul tapi tiba-tiba tangannya dalam genggaman orang lain. Itu Kang-hyuk, mengatakan ia seharusnya tidak memperlakukan perempuan seperti ini, apalagi terhadap istriku"
Eeeeeeee! Eun-bi terkejut begitu juga Chi-soo "istri???" tanya keduanya.
Kang-kyuk hanya tersenyum. Aih.. menawan mempesona.. wah perlu menenangkan diri satu menit nih.
Kepala sekolah datang dan menanyakan keadaan Chi-soo takut terluka sedang Dong-joo menarik Eun-bi. Kepala sekolah menyuruhnya untuk pulang. Dia akan diberi tahu saat dewan sekolah memutuskan apakah dipecat atau tidak.
Chi-soo diperiksa di rumah sakit, dia baik-baik saja dan dokter menyarankannya untuk beristirahat karena mendapat pukulan. Chi-soo keberatan dengan kata-kata dokter.
Chi-soo meralat karena ia sendiri yang membuat dirinya terpukul bukan karena orang lain.
Dia malu karena merasa siapapun tidak akan pernah dapat merobohkannya. Sehingga marah pada ayahnya yang mengulang-ulang kata ‘dipukul’ dan meminta untuk tidak memecat guru itu. (Mungkin maksudnya mau membalas guru itu).
Eun-bi duduk menemani ayahnya di rumah sakit dan ayah menebak dia dipecat. Eun-bi membantah dia hanya pulang kerja lebih awal. Ayah menyarankan kembali bermain voli. Eun-bi menjawab kalau voli tidak membayar untuk kebutuhannya dan dia tidak ingin hidup makan ramen; dia akan makan nasi. (Menurutnya ramen lebih murah daripada beras karena ramen pilihan orang miskin, tapi maksudnya dihubungannya dengan Ayah.) Eun-bi membenci karena ayahnya begitu mencintai toko ramennya. Ayah meminta Eun-bi membawakan ramen sebagai makan malamnya.
So-yi datang mengunjungi Chi-soo di rumah sakit, tapi Chi-soo masih kesal, dia sedang tidak mood. .Jadi ketika Ba-wol datang untuk mengunjungi ayah Eun-bi Chi-soo menyuruhnya pergi dengannya. Dengan senang hati So-yi memanggil Ba-wol dan mengajaknya makan malam bersama, tetapi Ba-wol masih jengkel padanya karena So-yi mencampakkannya.
Ayah Eun-bi penasaran pada Chi-soo dan bertanya tentang pacarnya yang cantik. Meraba dadanya Chi-soo dan mengatakan Chi-soo adalah orang terlihat bagus di luar tapi kosong dan gurun seperti di dalam. Chi-soo menepis dengan jengkel. Ayah Eun-bi mencengkeram banjunya terengah-engah, dia sekarat, dan meminta sesuatu untuk menghidupkannya. Suatu energi, harus hangat. Dia mulai mengarahkan Chi-soo ke rumahnya, ke lemari kedua, pada rak pertama, dalam teko perak, ramen panas..Ternyata ayah tidaklah sekarat. Ini membuat Chi-soo habis kesabaran dan berjalan pergi, jengkel. Dari jauh melihat Ayah Eun-bi jatuh, kali ini yang sebenar-benarnya sekarat.
Ba-wol makan berdua dengan So-yi dan mendapatkan tawaran So-yi untuk mulai berkencan lagi. Dia tersenyum lebar, Tapi So yi menjelaskan kalau dia akan mengencani mereka berdua, Ba-wol dan Chi-soo.Menduakan secara terang-terangan... ya tentu saja Ba-wol marah besar pada So-yi.
Eun-bi akhirnya mengalah dan membawakan ramen pada ayah.di lift dia bertemu Chi-soo. Dia diam dan mengabaikannya, dan si Chi-soo pura-purat sakit leher. Dipikiran Chi-soo guru ini akan meminta maaf tentunya. Tapi ketika pintu lift terbuka Eun-bi langsung keluar, meninggalkan Chi-soo dengan pura-pura sakit. Chi-soo terkejut: "Kau tidak datang untuk meminta maaf? Aku tidak perlu tahu kenapa aku dipukul. Tapi kau kesini mau meminta maafkan?”
Eun-bi tahu betapa harga dirinya harus digeser, dan dia tahu dia datang untuk meminta maaf. Tapi kemudian melintas ayahnya didorong masuk dengan para perawatyang cemas tampak Kang-hyuk di sisinya. Eun-bi secepatnya mengejar, tapi Chi-soo meraih tangannya Eun-bi melepaskan kantong ramen. Meninggalkan Chi-soo memegang kantong ramyun dan menganga kebingungan.
Eun-bi berdiri shock setelah dokter berlalu, sementara Dong-Joo memeluk menghiburnya. Ba-wol datang dengan teman-temannyasemua berpakaian hitam pemakaman. Chi-soo tidak percaya kalau Eun-bi berani mengabaikannya, dan merasa Eun-bi menyuruh Ba-wol meminta maaf menggantikannya, tapi mereka melewatinya, bahkan tidak melihat dirinya.
Chi-soo mengikuti mereka ke bagian pemakaman rumah sakit, dan terkejut melihat Ba-wol yang memberi penghormatan kepada Eun-bi, berpakaian hitam-hitam. Dan ketika melihat foto pemakaman, ia mengenal bapak yang menyukai ramen itu.
Chi-soo canggung pada Eun-bi, mencoba bersikap tidak peduli, mengoyang-goyangkan kantongan ramen. Eun-bi menyuruh membuangnya, karena ramen itu tidak bisa dimakan lagi.
Di kamar rumah sakit Chi-soo membuka kantongan ramen didalamnya mangkuk perak dinamai Eun-bi (julukan nya, Eun-nem-bi, juga berarti teko perak). Chi-soo melemparkannya ke tempat sampah, tapi kemudian memungutnya, membaca Toko Snack Eun-bi, dengan alamat dan peta dicetak.
Malam itu, Eun-bi duduk sendirian di toko, makan ramen dan Soju untuk menghormati ayah yang membawanya kembali pada kenangan lama. Dalam bayangan mata Eun-bi ayahnya ada didepannya melihat dengan sedih. "Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian ayah. Apakah ayah berdiri di sana sendirian? "Maafkan aku, Ayah."
Seorang pria di depannya, Eun-bi mendongakkan kepalanya melihat Ayah tersenyum padanya. dia bertanya, "Ayah, kau tidak pergi? Maaf, aku salah. Aku tidak akan minum banyak lagi, atau menulis grafiti di mana saja.dan rokok itu benar-benar bukan milikku. Itu milik Dong-Joo. Jadi jangan tinggalkan aku sendirian. Aku salah, jangan tinggalkan aku. "
Ayah mengatakan kepadanya, "Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu"
Eun-bi memegang tangannya dan menangis dalam pelukannya... Haa....Ternyata itu Kang-hyuk, Eun-bi masih dalam kenangan ayahnya.
Eun-bi mendongak lagi pad Kang-hyuk, "Apakah kau benar-benar ayahku? Kenapa ayah terlihat muda?"
Kang-hyuk menjawab dengan tersenyum lembut, "Tidak, aku bukan ayahmu. Aku suamimu "
Kang-hyuk menjawab dengan tersenyum lembut, "Tidak, aku bukan ayahmu. Aku suamimu "
Bingung, Eun-bi melirik dalam mabuk dan sedih," Suamiku ....?"
Di ambang pintu ada Chi-soo yang melihat dengan ekspresi setengah terkejut.
(bersambung)
Melihat Chi-soo diabaikan dan dilupakan Eun-bi atau Ba-wol merupakan cara terbaik baginya untuk disiplin, karena tidak seorangpun yang bersedia untuk mendisiplinkannya, bahkan ayahnya sendiri. Dia malah takut anaknya marah.
Kang-hyuk pria tampan tapi memiliki kelemahan, dia tidak sempurna. Dan kebiasaan yang membuatnya manis dan menawan. Dan sepertinya ada cinta segitiga.
t-t-thank you dramabean











Tidak ada komentar:
Posting Komentar